Aldy Dahoklory Luncurkan Antologi Puisi Dwibahasa “Yotowawa” untuk Pelestarian Bahasa Meher

KISAR, MALUKU BARAT DAYA, 9 Juni – Lintasdesa.com — Seorang penyair muda asal Pulau Kisar, Aldy Dahoklory (23), telah menyelesaikan draf antologi puisi dwibahasa berjudul Yotowawa yang memuat sekitar delapan puluh puisi dalam bahasa Meher dan bahasa Indonesia. Karya ini merupakan upaya mendokumentasikan dan melestarikan bahasa ibu yang penuturnya terbatas di Kepulauan Maluku Barat Daya.
Aldy Dahoklory lahir di Yawuru, Kisar Selatan, Kabupaten Maluku Barat Daya, 16 Oktober 2002. Ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Pattimura, Ambon. Ia mulai menulis setelah bergabung dengan Sanggar Cakadidi. Aldy pernah tampil dalam Gelar Sastra di Taman Budaya Maluku (2023-2024) serta Festival Puisi Modern Bahasa Tanah Maluku bersama grup jazz Boi Akih (2024).
Ia juga terlibat dalam antologi dwibahasa seri ke-5 yang diterbitkan Taman Inspirasi Sastra Indonesia (2025). Selain berkegiatan sastra, Aldy aktif dalam organisasi kepemudaan dan pernah menjabat sebagai Sekretaris II Studio Global di Yotowawa Media Center, pusat kebudayaan dan media yang berfokus pada kawasan Maluku Barat Daya.
Salah satu ciri utama antologi Yotowawa adalah format penyajian bilingual dengan dua kolom sejajar. Bahasa Meher ditempatkan pada kolom kiri, sementara terjemahan dalam bahasa Indonesia berada pada kolom kanan dengan proporsi tipografis yang sama. Keputusan ini berbeda dengan praktik umum penerbitan dwibahasa di Indonesia yang cenderung menempatkan terjemahan pada halaman terpisah atau sebagai catatan kaki.
Menurut penjelasan Aldy, terjemahan yang disajikan bukanlah terjemahan harfiah melainkan tafsir puitis. Pendekatan ini memungkinkan kedua bahasa memiliki ruang ekspresi yang setara. Secara visual, format dua kolom sejajar menciptakan efek pembacaan yang sinkronis, di mana pembaca dapat melompat antara dua versi bahasa tanpa kehilangan ritme puisi.
Format ini juga memungkinkan pembaca yang tidak menguasai bahasa Meher untuk tetap mengakses puisi melalui terjemahan bahasa Indonesia, sambil secara konstan menyadari keberadaan teks asli di sebelah kirinya. Kesadaran visual ini menghilangkan hierarki antara bahasa Indonesia sebagai bahasa mayoritas dan bahasa Meher sebagai bahasa minoritas.
Secara tematik, antologi Yotowawa berbeda dari kumpulan puisi pada umumnya. Lebih dari separuh puisi tidak bertemakan pengalaman personal, melainkan berfungsi sebagai rekaman tertulis atas sistem pengetahuan kolektif masyarakat Pulau Kisar.
Beberapa kategori pengetahuan yang terekam dalam antologi ini meliputi aturan adat dan tata krama sosial, sistem kekerabatan matrilineal, kearifan ekologis, kosmologi dan sistem kepercayaan, serta filosofi pewarisan nilai-nilai budaya.
Puisi-puisi yang merekam aturan adat ini pada dasarnya berfungsi sebagai kodifikasi etika sosial yang sebelumnya hanya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Misalnya, aturan tentang tata cara bertamu, waktu yang tepat untuk berkunjung, serta cara menyapa berdasarkan garis keturunan dituliskan secara eksplisit. Sistem panggilan dan sapaan yang jika salah digunakan dapat dianggap sebagai pelanggaran adat juga direkam dalam bentuk puisi.
Dari sisi ekologis, puisi-puisi tentang musim tanam dan larangan pada masa-masa tertentu mencerminkan pengetahuan masyarakat agraris dalam mengelola hubungan antara manusia, alam, dan waktu. Sistem tabu musiman yang dijaga masyarakat Kisar selama bergenerasi terekam dalam diksi-diksi puitis yang padat makna.
Dalam ranah kosmologi, puisi-puisi dalam antologi ini merekam konsepsi masyarakat Kisar tentang relasi antara yang hidup dan yang mati, peran leluhur dalam kehidupan sehari-hari, serta konsep sakral dan profan yang membagi ruang dan waktu. Sementara itu, filosofi pewarisan nilai-nilai budaya dengan bahasa sebagai medium utama menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh puisi.

Antologi Yotowawa menunjukkan sejumlah ciri khas puitis yang merefleksikan peralihan dari tradisi lisan ke tradisi tulisan.
Pengulangan menjadi piranti paling dominan. Pengulangan kata, frasa, dan struktur sintaksis menciptakan efek ritmis yang mengingatkan pada mantra atau petuah yang diucapkan berulang dalam tradisi lisan. Efek ini tidak hanya estetis tetapi juga mnemonic—membantu pembaca mengingat dan menghafal teks.
Paralelisme atau kesejajaran struktur juga menjadi ciri khas. Larik-larik disusun dengan pola gramatikal yang sama, menciptakan irama teratur yang umum ditemukan dalam puisi tradisional Nusantara.
Penggunaan kata yang tidak diterjemahkan menjadi strategi estetis yang menarik. Aldy mempertahankan sejumlah kata kunci dalam bahasa Meher tanpa terjemahan harfiah, seperti daisuli, pa’a, inai, dan honoli. Keputusan ini menunjukkan bahwa ada realitas konseptual yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Metafora dari alam dan budaya lokal mendominasi imaji puisi. Batu, jagung, pohon koli, tenun, tifa (gendang tradisional), sopi (minuman tradisional), pinang dan sirih menjadi sumber metafora yang berulang dan bersifat struktural, bukan sekadar dekoratif.
Dualitas dan keseimbangan menjadi tema estetis yang konsisten. Aldy menggambarkan dunia dalam pasangan oposisi yang tidak dipertentangkan: timur-barat, hujan-kemarau, laki-perempuan, mati-hidup, Meher-Woirata. Dualitas disajikan sebagai kelengkapan, bukan konflik.

Antologi Yotowawa memiliki sejumlah keunikan dibandingkan karya sejenis dalam kesusastraan Indonesia kontemporer.
Dari sisi bahasa, antologi ini menggunakan bahasa Meher—sebuah bahasa daerah dengan jumlah penutur terbatas yang belum banyak didokumentasikan. Sebagian besar antologi dwibahasa di Indonesia umumnya menggunakan bahasa daerah dengan penutur besar seperti Jawa, Sunda, atau Bali. Penggunaan bahasa Meher menempatkan antologi ini dalam kategori dokumentasi bahasa terancam melalui medium sastra.
Dari sisi kepenulisan, Aldy adalah penutur muda bahasa Meher yang tumbuh di era digital. Hal ini berbeda dengan proyek revitalisasi bahasa yang biasanya digerakkan oleh generasi tua atau akademisi. Kepenulisan oleh generasi muda menjamin bahwa bahasa yang didokumentasikan adalah bahasa yang hidup dan digunakan.
Dari sisi fungsi, antologi ini tidak hanya berfungsi sebagai karya seni tetapi juga sebagai dokumen etnografis dan bahan ajar. Puisi-puisi yang merekam aturan adat dan etika dapat berfungsi sebagai teks pendidikan karakter berbasis kearifan lokal—sesuatu yang jarang ditemukan dalam antologi puisi pada umumnya.
Dari sisi format, keputusan menempatkan dua bahasa secara sejajar dalam satu bidang pandang merupakan inovasi tipografis yang belum lazim dalam penerbitan puisi di Indonesia.
Dari sisi jangkauan tematik, antologi ini mencakup spektrum yang luas: dari kelahiran hingga kematian, dari makan hingga cinta, dari kerja hingga doa dan ibadah.
Bahasa Meher adalah salah satu bahasa daerah di Provinsi Maluku yang penuturnya terkonsentrasi di Pulau Kisar dan sekitarnya. Ancaman terhadap keberlanjutan bahasa ini bersifat multidimensi: jumlah penutur yang kecil, migrasi generasi muda ke kota, serta tidak adanya pengajaran bahasa Meher di sekolah formal.
Antologi Yotowawa merespons ancaman ini melalui pendekatan sastra. Dengan menuliskan puisi dalam bahasa Meher, Aldy menciptakan artefak tertulis yang stabil, tidak berubah setiap kali diucapkan, dan dapat diakses secara luas tanpa terikat ruang dan waktu.
Pendekatan serupa telah diterapkan di berbagai belahan dunia: masyarakat Maori di Selandia Baru dengan buku dwibahasa Maori-Inggris, masyarakat Hawaii dengan puisi dan nyanyian, serta berbagai masyarakat adat di Australia dan Kanada.
Aldy menyadari keterbatasan pendekatan ini. Revitalisasi bahasa yang berkelanjutan membutuhkan kebijakan bahasa yang mendukung, pendidikan formal, dokumentasi sistematis, serta dukungan masyarakat penutur. Namun demikian, antologi ini merupakan langkah awal yang penting.
Ia berharap antologinya dapat diterbitkan oleh penerbit mana pun, baik di dalam maupun luar negeri. “Saya tidak butuh cetakan mewah atau distribusi raksasa. Saya hanya ingin buku ini ada. Untuk terus dipakai memahami pulau Kisar lebih dalam,” katanya.
*) Ditulis oleh: Onisias Salmanu
