MENANTI KRISMON JILID II: Saat Elit Pesta, Utang Menggunung, Rakyat Dikorbankan
Oleh: Junaidi Farhan (Ketum Forum Membangun Desa)

LINTASDESA.COM – Krisis Moneter atau KRISMON JILID II Bukan Isu, Tapi Fakta yang Disensor. Bila1998 kita dihajar IMF, rupiah ambruk, harga sembako gila-gilaan. Maka 2026 polanya sama, cuma beda kemasan. Utang negara tembus Rp9.637 Triliun. Defisit APBN jebol. Cadangan devisa terkuras buat “bailout” BUMN. Bedanya dulu krisisnya rame, sekarang dibungkus narasi “fundamental kuat”. Kuat dari mana kalau daya beli rakyat anjlok 3 tahun berturut?
Dulu pelakunya adalah para konglomerat, IMF dan kroni. Sekarang oligarki, utang luar negeri, proyek mercusuar yang mangkrak dan bermasalah seperti IKN, kereta cepat, ditambah program paling boros, MBG dan KDMP. Keren di baliho, buntung di neraca. Siapa yang bayar? Rakyat lewat PPN 12%, pajak digital, harga BBM, tarif listrik yang “disesuaikan” tiap secara diam-diam.
KRISMON 1998 melahirkan 20 juta pengangguran baru. KRISMON JILID II caranya lebih halus PHK massal tapi namanya “efisiensi”. Startup tumbang, pabrik tutup, lapangan kerja formal makin langka. Sementara harga beras, listrik, sekolah swasta naik tanpa ampun. Elit bilang “nikmati proses”. Proses menuju jurang?
Yang paling kejam dari KRISMON JILID II ini adalah pembodohan sistematis. Media disumpal, buzzer dibayar buat bilang “aman”. Padahal indikator dasar sudah merah semua: NPL bank naik, UMKM mati, investasi asing kabur ke Vietnam. Tapi kita disuruh “optimis”. Optimis tanpa data sama dengan delusi kolektif.
Soeharto jatuh karena tiga hal: korupsi, utang, dan mengabaikan jeritan rakyat. Tiga hal itu sekarang ada lagi, versi upgrade. Kalau 1998 kita kaget karena nggak siap, 2026 kita nggak punya alasan. Data ada, tanda ada, korban sudah berjatuhan. Diam berarti rakyat setuju digilas.
KRISMON JILID II bukan kutukan. Ini konsekuensi. Konsekuensi dari 10 tahun hidup di atas utang dan pencitraan. Negara tidak akan bangkrut besok. Tapi rakyat miskinnya yang bangkrut duluan. Dan itu sudah terjadi.
Mau tunggu sampai rupiah Rp20.000/USD baru teriak? Atau lawan sekarang selagi masih bisa?
Artikel Kontan 5 Juni 2026, seruan “Sell Indonesia” sudah keluar dari mulut investor global, bukan cuma wacana netizen atau hanya diskusi kosong di WhatsApp Group (WAG)
Fakta 5 Juni 2026, IHSG anjlok 37% hanya dalam 5 bulan, jadi kinerja terburuk dari 90 lebih indeks global versi Bloomberg. Rupiah tembus 18.000/USD, terlemah di Asia. Investor asing cabut Rp86 triliun dari obligasi pemerintah. Ini bukan koreksi biasa. Ini eksodus.
George Boubouras, hedge fund K2 Asset Management yang kelola US$ 4,3 miliar, bilang tegas: “Tren utama di Asia saat ini adalah Sell Indonesia”. Dia sudah keluar total dari pasar sejak 2024. Kalau pemain kakap saja kabur, rakyat masih disuruh “tenang”?
Prabowo targetkan pertumbuhan 8%, perluas makan gratis, koperasi merah putih, negara makin dominan di ekonomi, dana disalurkan ke Danantara. Kedengarannya mulia.
Tapi pasar membacanya lain, intervensi naik, kontrol ekspor komoditas diperketat, kebijakan tidak jelas eksekusinya.
Direshufflenya Sri Mulyani, bukan tanpa pengaruh. Dia simbol disiplin fiskal yang bikin investor asing percaya Indonesia aman. Begitu dia diganti, kredibilitas anggaran runtuh. Ana Isabel Gonzalez dari Farringdon bilang: “Jika saya tidak bisa mempercayai plumbing-nya, saya tidak ingin jadi yang terakhir keluar”. Terjemahan bebasnya, kalau sistemnya bocor, siapa yang mau ketiban air kotor terakhir Jawabannya: Rakyat.
Rupiah jatuh 14% sejak Oktober 2024. Pasar opsi sudah spekulasi 45% kemungkinan ke 19.000, 28% ke 20.000 akhir tahun. Dampaknya langsung ke piring rakyat, BBM naik, impor mahal, inflasi pangan gila.
Indonesia masih importir minyak bersih, ditambah konflik Timur Tengah sama saja neraca jebol. Elit bilang “fundamental kuat”. Kuat untuk siapa? Utang negara Rp9600 Triliun, BI pegang 27% obligasi pemerintah, mirip quantitative easing. Ini bukan kuat, ini akrobatik neraca.
PHK massal dibungkus “efisiensi”. Startup tumbang. Pabrik tutup. Sementara MSCI ngancam turunkan status Indonesia dari “emerging market” ke “frontier market”. Kalau itu kejadian, dana pensiun global wajib cabut. Artinya likuiditas kering, saham makin murah, pensiun buruh makin tipis. Yuxuan Tang dari JPMorgan bilang investor global sekarang “wait and see” sampai ada prediktabilitas. Bahasa halusnya, nunggu sampai ada menteri yang bisa dipercaya lagi.

Pemerintah masih jual narasi ekonomi tumbuh 5% plus, utang relatif rendah, kita raja nikel. Iya, potensinya ada.
Tapi investor tidak beli potensi, mereka beli kepastian. Yang diminta pasar sekarang simpel, kepastian fiskal, independensi BI, transparansi Danantara, arah kebijakan jelas. Selama itu tidak ada, seruan “jual Indonesia” bakal terus menggema.
Seperti kata Boubouras: “Pemerintah butuh mitra para pemegang obligasi. Sampai itu tercapai, strategi jual Indonesia tetap berlaku”.
1998 kita krisis karena tidak melihat tanda-tandanya. 2026 kita krisis karena pura-pura buta padahal tandanya terpasang besar, IHSG merah, rupiah ambruk, modal asing kabur.
KRISMON JILID II tidak akan teriak “aku datang”. Dia datang diam-diam lewat harga beras, cicilan KPR, dan PHK ribuan buruh.
Elit bisa pindah aset ke Singapura. Rakyat? Mau lari ke mana kalau negaranya sendiri dijual obral sama investor global?
