Indonesia Emas 2045 Hanya Ilusi Jika Desa Masih Jadi Penonton: Wawancara Eksklusif di Balik Pemikiran Kang Asgan

KAB. BANDUNG, 26 Mei 2026 – lintasdesa.com – Visi besar Indonesia Emas tahun 2045 bukan sekadar mimpi milik masyarakat perkotaan. Menjadi negara maju berpendapatan tinggi adalah target nasional, namun kunci utamanya justru berada di akar rumput: masyarakat desa.
Guna membedah kesiapan desa menghadapi megaproyek nasional tersebut, tim jurnalis Lintasdesa berkesempatan melakukan wawancara interaktif mendalam dengan Asep Gandi Wahyudi, atau yang akrab disapa Kang Asgan. Tokoh penggerak kemasyarakatan yang dikenal vokal menyuarakan kedaulatan akar rumput ini membedah secara tajam kesiapan masyarakat desa.
Ketika jurnalis mempertanyakan seberapa siap masyarakat desa menghadapi gempuran narasi Indonesia Emas yang selama ini terkesan hanya milik masyarakat urban di kota-kota besar, Kang Asgan dengan tegas menyatakan bahwa pola pikir (mindset) pembangunan harus dirombak secara total.
“Indonesia Emas tidak akan pernah tercapai jika desa-desa kita ditinggalkan dalam kemiskinan dan ketertinggalan. Desa bukan lagi sekadar objek pembangunan atau pelengkap penderita statistik, melainkan fondasi utama! Ketika desa maju, maka secara otomatis Indonesia akan emas. Namun jujur saja, perjalanan menuju seabad Indonesia nanti masih dihadapkan pada tantangan struktural yang tidak ringan,” ujarnya membuka perbincangan.
Lebih dalam jurnalis menanyakan perihal tantangan paling krusial yang membayangi desa-desa saat ini. Kang Asgan membeberkan poin pertama mengenai persoalan kesenjangan digital dan lemahnya literasi teknologi di pedesaan.
Menurutnya, digitalisasi desa tidak boleh mandek pada pengadaan perangkat komputer dinas atau pemasangan jaringan internet semata. “Kita tidak bisa bicara Indonesia Emas jika masyarakat desa masih gagap teknologi. Tantangan terbesar kita saat ini adalah bagaimana mengubah pemanfaatan teknologi di desa agar tidak sekadar untuk hiburan, melainkan bergeser ke arah produktivitas ekonomi, tata kelola pemerintahan desa yang transparan, dan akses pendidikan yang merata,” tutur Kang Asgan secara interaktif kepada jurnalis.
Mendengar pemaparan tersebut, jurnalis kemudian mengejar pertanyaan mengenai kesiapan sumber daya manusia di desa, terutama fenomena klasik brain drain atau eksodusnya pemuda-pemuda terbaik desa yang enggan kembali ke kampung halaman setelah mengenyam pendidikan tinggi.
Menanggapi hal itu, Kang Asgan menekankan pentingnya menciptakan ekosistem desa yang menarik agar generasi muda mau bertahan dan berinovasi di daerah asal. Ia menilai penguatan kurikulum pendidikan yang berbasis pada potensi lokal desa sudah sangat mendesak untuk diperkuat agar generasi muda tidak asing dengan tanah kelahirannya sendiri.
Perbincangan mengalir semakin tajam ketika jurnalis menyentuh aspek kemandirian ekonomi desa yang selama ini stagnan dan hanya bergerak di sektor hulu tanpa adanya nilai tambah (value added). Kang Asgan mengamini hal tersebut dan menyoroti pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta sektor UMKM yang harus dipacu agar mampu bersaing di pasar nasional hingga global. Hal itu, menurutnya, hanya bisa dicapai dengan memanfaatkan kearifan lokal serta hilirisasi produk pertanian dan pariwisata desa secara konsisten.
Sebelum mengakhiri sesi wawancara, jurnalis melemparkan pertanyaan krusial mengenai risiko modernisasi yang berpotensi mengikis nilai gotong royong dan kebudayaan lokal di pelosok desa.
Kang Asgan menggarisbawahi bahwa ketahanan sosial dan penguatan kelembagaan desa—baik formal maupun organisasi kemasyarakatan—harus menjadi benteng utama agar kemajuan ekonomi berjalan beriringan dengan kelestarian moral, budaya, dan adat istiadat setempat.
Di akhir penyampaiannya, tokoh penggerak kemasyarakatan ini mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah desa, akademisi, hingga sektor swasta, untuk bersinergi dan memiliki komitmen bersama dalam membangun episentrum pertumbuhan baru dari pinggiran.
“Menjawab tantangan ini membutuhkan kerja keras kolektif. Desa harus menjadi pusat inovasi, pusat pangan, dan pusat pertumbuhan baru. Jangan lagi marginalkan desa,” pungkasnya optimis. (**)
*)Reporter ld Bandung
