Organisasi Adalah Seni

LINTASDESA.COM. Berorganisasi sering kita pahami secara sederhana. Sekumpulan orang berkumpul, memiliki tujuan, menyusun kepengurusan, membuat program, lalu bekerja bersama.
Dalam teori organisasi kita mengenal struktur, pembagian tugas, kewenangan, koordinasi, aturan, dan mekanisme pengambilan keputusan.
Semua itu penting. Tetapi organisasi dalam kenyataan tidak pernah sesederhana struktur yang tertulis di atas kertas. Sebab organisasi bukan hanya kumpulan jabatan, melainkan kumpulan manusia.
Manusia datang dengan pikiran, pengalaman, karakter, kepentingan, ambisi, harapan, bahkan ego masing-masing. Ada yang mudah diajak bekerja sama, ada yang keras kepala. Ada yang suka berada di depan, ada yang nyaman bekerja dalam keheningan. Ada yang mudah menerima kritik, ada pula yang merasa tersinggung ketika dikoreksi.
Karena itu, mengelola organisasi tidak cukup hanya memahami aturan. Dibutuhkan kemampuan memahami manusia, membaca situasi, membangun komunikasi, mengelola perbedaan dan, yang tidak kalah penting, mengelola ego.
Di sinilah saya melihat bahwa berorganisasi bukan hanya ilmu, tetapi juga seni.
Ilmu memberikan kerangka. Aturan memberikan batas. Struktur memberikan pembagian kewenangan. Tetapi seni mengajarkan bagaimana semua itu diterapkan dalam kehidupan nyata.
Tidak semua persoalan organisasi dapat diselesaikan dengan pasal AD/ART. Tidak semua konflik selesai dengan rapat pimpinan. Tidak semua perbedaan selesai dengan voting. Dan tidak semua persoalan manusia dapat diselesaikan dengan surat keputusan.
Ada kalanya organisasi membutuhkan ketegasan. Tetapi ada kalanya membutuhkan kesabaran. Ada saatnya pemimpin harus berbicara. Ada saatnya pemimpin justru harus diam dan mendengarkan. Itulah seni.
Salah satu perumpamaan paling mudah untuk memahami organisasi adalah orkestra.
Bayangkan sebuah panggung yang diisi pemain biola, cello, piano, flute, terompet dan berbagai instrumen lainnya. Masing-masing memiliki suara dan fungsi yang berbeda. Mereka tidak memainkan nada yang sama.
Tetapi ketika semuanya dimainkan dengan baik, perbedaan suara itu justru menghasilkan musik yang indah.
Organisasi pun demikian. Tidak mungkin semua orang memiliki kemampuan, karakter dan cara berpikir yang sama. Organisasi justru membutuhkan keberagaman kemampuan.
Masalahnya bukan apakah suara kita berbeda. Masalahnya adalah apakah suara yang berbeda itu mampu menghasilkan harmoni.
Di sinilah organisasi membutuhkan konduktor.
Konduktor tidak memainkan semua alat musik. Ia tidak mengambil alih pekerjaan para pemain. Tetapi ia tahu kapan biola harus masuk, kapan drum harus berhenti, kapan terompet diperkuat dan kapan semua pemain harus bermain bersama.
Begitulah seharusnya seorang pemimpin. Pemimpin bukan orang yang harus mengerjakan semuanya. Pemimpin juga bukan orang yang harus selalu menjadi suara paling keras. Pemimpin adalah orang yang mampu menyatukan berbagai kemampuan menjadi satu irama perjuangan.
Seorang ketua tidak harus menjadi orang paling pintar dalam semua bidang. Yang dibutuhkan adalah kemampuan melihat potensi orang lain dan menempatkannya pada ruang yang tepat.
Jika semua orang ingin menjadi konduktor, organisasi bukan lagi menghasilkan musik, tetapi kebisingan.
Dalam banyak organisasi, keadaan seperti ini sering terjadi. Bukan karena orang-orangnya tidak memiliki kemampuan, tetapi karena terlalu banyak orang ingin memainkan peran orang lain dan lupa memainkan perannya sendiri.
Ada ketua yang ingin mengerjakan semuanya sendiri. Sekretaris tidak diberi ruang, bendahara tidak dipercaya, bidang-bidang tidak diberi kewenangan. Semua keputusan harus melalui dirinya.
Ini bukan kepemimpinan. Ini adalah ketergantungan organisasi kepada satu orang.
Sebaliknya, ada pula pemimpin yang menyerahkan semuanya tanpa arah. Semua orang bekerja, tetapi tidak ada irama yang sama. Organisasi akhirnya hanya menjadi kumpulan aktivitas.
Banyak kegiatan belum tentu banyak kemajuan. Banyak rapat belum tentu banyak keputusan. Banyak keputusan belum tentu banyak perubahan. Dan banyak pengurus belum tentu berarti organisasi kuat. Organisasi menjadi kuat ketika seluruh aktivitasnya bergerak menuju tujuan yang sama.
Karena itu, organisasi tidak cukup hanya membangun struktur. Ia juga harus membangun kultur. Budaya untuk saling menghormati. Budaya untuk mendengar. Budaya mengkritik tanpa menghina. Budaya menerima kritik tanpa merasa diserang. Budaya bekerja tanpa harus selalu menunggu perintah. Dan yang paling penting, budaya memahami bahwa jabatan adalah amanah, bukan kepemilikan.
Sebab begitu seseorang merasa jabatan adalah miliknya, sejak saat itu pula organisasi mulai kehilangan ruang untuk tumbuh.

Konflik dalam organisasi juga bukan sesuatu yang harus selalu ditakuti. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Bahkan organisasi yang tidak pernah berbeda pendapat patut dipertanyakan. Bisa jadi semua orang sepakat, tetapi bisa juga karena tidak ada lagi yang berani berbicara.
Yang berbahaya bukan perbedaannya, melainkan ketika perbedaan gagasan berubah menjadi permusuhan pribadi.
Pada titik tertentu, organisasi tidak lagi membahas bagaimana menyelesaikan persoalan masyarakat, tetapi sibuk membahas siapa yang paling benar dan siapa yang paling berkuasa. Di sinilah organisasi mulai kehilangan tujuan.
Ada satu penyakit organisasi yang sering muncul: terlalu sibuk mengurus posisi, tetapi lupa mengurus tujuan.
Siapa ketua? Siapa sekretaris? Siapa yang mendapatkan kewenangan? Siapa yang paling dekat dengan pimpinan?
Pertanyaan itu memang penting. Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting: Apa yang sudah kita kerjakan?
Berapa banyak persoalan yang berhasil kita bantu selesaikan? Berapa banyak kader yang berhasil kita lahirkan? Berapa banyak gagasan yang berhasil kita perjuangkan? Berapa banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari keberadaan organisasi?
Pada akhirnya, organisasi tidak dinilai dari panjangnya struktur, tetapi dari manfaat yang dihasilkan.
Begitu pula dengan kaderisasi. Organisasi yang sehat tidak boleh bergantung selamanya kepada satu orang.
Pemimpin yang baik bukan hanya menghasilkan program. Ia juga menghasilkan penerus.
Ia tidak takut ketika ada kader muda yang lebih pintar. Ia tidak merasa terancam ketika ada orang lain yang lebih aktif. Sebaliknya, ia merasa berhasil ketika orang-orang yang pernah dibimbingnya suatu hari mampu berdiri sendiri.
Sebab “tujuan kaderisasi adalah membuat orang lain mampu berjalan tanpa kita.” Pada akhirnya, berorganisasi adalah seni mengelola perbedaan, ego, komunikasi, kepercayaan, kritik, konflik dan kekuasaan.
Organisasi bukan tempat mencari orang yang selalu sepakat dengan kita. Organisasi adalah tempat belajar bagaimana orang-orang yang berbeda dapat berjalan menuju tujuan yang sama.
Maka jangan terlalu bangga ketika mendapatkan jabatan. Jangan terlalu kecewa ketika kehilangan posisi. Jangan terlalu mabuk oleh pujian dan jangan terlalu marah oleh kritik. Semuanya hanya bagian dari perjalanan.
Yang lebih penting adalah apakah setelah kita berada di dalam organisasi, organisasi menjadi lebih baik atau justru menjadi lebih buruk.
Apakah kehadiran kita membuat orang lain tumbuh atau justru mengecil?
Apakah kita meninggalkan kader atau hanya meninggalkan konflik?
Apakah kita meninggalkan karya atau hanya meninggalkan jabatan?
Karena sejarah organisasi tidak akan terlalu lama mengingat siapa yang paling banyak bicara.
Sejarah akan lebih lama mengingat siapa yang benar-benar bekerja. Sebab organisasi yang baik bukan organisasi yang membuat seseorang menjadi besar. Organisasi yang baik adalah organisasi yang membuat banyak orang tumbuh menjadi besar.
Dan pemimpin yang memahami seni berorganisasi akan menyadari bahwa dirinya hanyalah salah satu bagian dari musik yang sedang dimainkan.
Ia bukan musik itu sendiri.
Ia hanya membantu memastikan setiap alat musik menemukan nadanya, setiap pemain memahami perannya, dan seluruh suara yang berbeda akhirnya mampu menjadi satu harmoni.
“Karena organisasi, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling keras suaranya.
Organisasi adalah tentang bagaimana suara-suara yang berbeda dapat menghasilkan musik perubahan.”
Itulah seni berorganisasi.
Tulisan ini merupakan bagian dari buku “Organisasi Adalah Seni”
karya Yoseph Heriyanto.
