Dinda Dewi Collection, Bertahan dan Berkembang di Tengah Gempuran Fesyen Impor

KARANGANYAR, Lintasdesa.com – Di tengah gempuran produk fesyen luar negeri yang membanjiri pasar digital Indonesia, pelaku UMKM lokal tetap menunjukkan daya tahan dan kreativitasnya. Salah satunya adalah Dinda Dewi Collection, usaha fesyen lokal yang terus berkembang sejak dirintis pada tahun 2010.
Dinda Dewi Collection memulai usahanya dari desa, tepatnya Dusun Melikan, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kebakramat, Kabupaten Karanganyar.
Dinda memulai kariernya dari hobi sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu ia mulai membuat baju untuk boneka dengan menjahit manual menggunakan jahit tangan.
Kemudian, berbekal satu mesin jahit portable yang dibelikan oleh orang tuanya, Dinda mulai belajar menjahit secara otodidak.
Melihat potensi dan peluang yang ada, ia kemudian memutuskan untuk sekolah menjahit di salah satu LPK di Karanganyar. Setelah mendapatkan keterampilan dasar dan pengalaman, Dinda mulai memberanikan diri membuka usaha sendiri hingga berkembang seperti sekarang.

Usaha yang dimiliki Dinda itu bermula dari skala rumahan dengan pemasaran sederhana. Namun seiring perkembangan teknologi dan perubahan pola belanja masyarakat, Dinda mulai merambah penjualan melalui online shop. Keputusan tersebut menjadi titik penting bagi perkembangan usahanya.
Dari yang awalnya hanya melayani pembeli di sekitar daerah, pasar Dinda Dewi Collection perlahan meluas hingga berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bali, dan Papua. Bahkan produknya juga telah menjangkau konsumen di Malaysia.
“Awalnya hanya jualan kecil-kecilan. Setelah masuk online shop, pembeli mulai datang dari berbagai daerah,” ujar Dinda, Rabu (20/5/2026).
Pada masa awal usaha, produk unggulan yang paling diminati adalah kebaya anak, batik, dan mukena. Namun mengikuti perkembangan pasar, Dinda Dewi Collection kini lebih fokus mengembangkan produk fesyen berbasis batik modern seperti kemeja, blouse, tunik, dress, dan gamis bermotif batik.

Selain produk fesyen harian, hingga saat ini pesanan seragam juga terus meningkat. Mulai dari seragam karang taruna, TPA, seragam sekolah, hingga kebaya untuk berbagai kegiatan masyarakat dan acara formal.
Tidak hanya menjual pakaian, Dinda Dewi Collection juga mengembangkan layanan penyewaan pakaian adat nusantara yang merupakan hasil rancangan dan garapannya sendiri. Berbagai koleksi pakaian adat tersebut kerap digunakan untuk kegiatan sekolah, pentas budaya, peringatan hari nasional, hingga acara karnaval.
Keunikan lain dari usaha ini adalah komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat. Dinda Dewi Collection membuka pelatihan kursus menjahit bagi pemula maupun peserta dengan kemampuan lanjutan.
Pelatihan tersebut menjadi ruang belajar bagi masyarakat yang ingin memiliki keterampilan menjahit sekaligus membuka peluang usaha mandiri.

Menurut Dinda, keterampilan menjahit masih memiliki peluang besar di tengah perkembangan industri fesyen saat ini. Karena itu, ia ingin usahanya tidak hanya berkembang secara bisnis, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Produk fashion dari luar cukup berpengaruh, apalagi produk itu dijual melalui media sosial. Maka UMKM harus lebih kreatif, baik inovasi produk maupun pemasaran melalui online shop. Selain itu juga penting membuka jejaring pasar yang lebih luas,” ungkap Dinda.
Di tengah persaingan produk impor yang semakin kuat, Dinda memilih tetap bertahan dengan mengedepankan kualitas, pelayanan, dan sentuhan khas produk lokal. Baginya, UMKM tidak hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga menjaga agar karya dan keterampilan lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Perjalanan panjang Dinda Dewi Collection menjadi gambaran bahwa UMKM lokal tetap memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang. Dengan kreativitas, pemanfaatan teknologi digital, dan keberanian berinovasi, usaha kecil mampu bertahan bahkan memperluas pasar hingga luar daerah dan luar negeri.
*) Ditulis oleh: Tim Kontributor Karanganyar
