Momentum Hari Lahir Pancasila: BUMDes Sukakarya Luncurkan ‘PUHARA’, Wujudkan Kedaulatan Ekonomi Desa Lewat Aksi Nyata Gotong Royong

BEKASI, 1 JUNI 2026 – Lintasdesa.com – Menjadikan peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni sebagai tonggak semangat baru, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tunas Karya Cipta, Desa Sukakarya, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, resmi meluncurkan inisiatif besar pembangunan kawasan eduwisata terpadu bertajuk PUHARA – Pusaka Harta Rakyat.
Mengusung tema “Desa Wisata Tangguh Bencana”, proyek ini dipersembahkan sebagai wujud nyata pembumian nilai-nilai luhur Pancasila, khususnya Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Konsep pembangunan ini mengedepankan prinsip gotong royong, ekonomi inklusif, kemandirian, serta keberlanjutan jangka panjang bagi seluruh warga desa.
Direktur BUMDes Tunas Karya Cipta Sukakarya, Fahmi Yazid, menegaskan bahwa peringatan hari lahir Pancasila bukan sekadar seremonial, melainkan momen refleksi untuk menerjemahkan dasar negara menjadi kesejahteraan nyata di tingkat akar rumput. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila harus diwujudkan dalam bentuk kedaulatan pangan, kemandirian sumber daya air, pelestarian budaya, dan penguatan ekonomi masyarakat.
“Pancasila tidak boleh berhenti sebagai teori atau hafalan semata. Di PUHARA, kami menerjemahkannya dengan prinsip tidak ada warga yang tertinggal (no one left behind). Semua elemen, mulai dari petani, pemuda, hingga pelaku usaha mikro, kami rangkul untuk menjadi pemilik kedaulatan ekonomi mereka sendiri. Ini adalah bentuk pengamalan nyata dari kemanusiaan yang adil dan persatuan Indonesia,” ujar Fahmi Yazid saat memimpin peluncuran di Kampung Gamprit, Senin (1/6).
Empat Pilar “Pusaka”: Fondasi Kekuatan Ekonomi Desa
Proyek PUHARA dibangun di atas empat pilar utama yang saling terintegrasi, dirancang untuk mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki Desa Sukakarya:


Pusaka Tanah (Kedaulatan Pangan)
Mengelola lahan produktif seluas 43 hektar milik PT Jababeka Tbk menjadi kawasan pertanian, peternakan, dan perikanan terpadu berkonsep Zero Waste Agriculture (tanpa limbah). Program ini diproyeksikan mampu menyerap langsung 30 tenaga kerja lokal dan menjamin ketersediaan pangan desa.
Pusaka Air (Kemandirian Sumber Daya)
Memanfaatkan kekayaan alam berupa mata air purba “Sumur Penganten” menjadi unit usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Langkah ini tidak hanya menjamin ketersediaan air bersih berkualitas bagi warga, tetapi juga menjadi sumber peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang berkelanjutan.
Pusaka Budaya (Revitalisasi Nilai Luhur)
Menghidupkan kembali kearifan lokal dan tradisi leluhur seperti gotong royong, persatuan, dan babaritan. Nilai-nilai tersebut dikemas dan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan lokal, agar jati diri bangsa dan karakter desa tetap terjaga di tengah arus modernisasi.
Pusaka Bisnis (Digitalisasi Ekonomi Kreatif)
Membangun sentra UMKM modern yang ramah lingkungan, dilengkapi sistem transaksi nontunai berbasis QRIS serta jaringan agen perbankan terintegrasi. Fasilitas ini dibuka seluas-luasnya bagi lebih dari 50 pelaku usaha mikro lokal untuk meningkatkan skala dan jangkauan pemasaran produk desa.
Kolaborasi Pentahelix: Wujud Nyata Musyawarah Mufakat
Keberhasilan konsep PUHARA, menurut Fahmi Yazid, bertumpu pada kekuatan kolaborasi lintas pihak atau yang dikenal sebagai pendekatan Pentahelix. Hal ini merupakan cerminan nyata dari Sila Keempat Pancasila tentang musyawarah untuk mufakat demi kemaslahatan bersama.
Kolaborasi strategis tersebut melibatkan:
Pemerintah: Kemendes PDTT dan Pemkab Bekasi, yang berperan dalam penyelarasan regulasi, dukungan prasarana, dan pendanaan.
Sektor Swasta & BUMN/BUMD: Kemitraan dengan PT Jababeka Tbk (penyedia lahan), Bank BJB (sistem keuangan desa transparan), Bank Mandiri (layanan perbankan UMKM), serta PT Frisian Flag Indonesia (distribusi dan gizi masyarakat).
Akademisi: Institut Teknologi Sains Bandung (ITSB) yang mendampingi desa binaan untuk menjamin aspek lingkungan hidup dan konsep desa hijau (Green Village).
Masyarakat: Berperan sebagai motor penggerak sekaligus penerima manfaat utama.
Standar Tinggi: Desa Wisata Tangguh Bencana
Sejalan dengan prinsip kemanusiaan, kawasan PUHARA dikembangkan dengan standar Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3S) yang ketat. Kawasan ini dilengkapi peta jalur evakuasi mandiri, sistem drainase anti-banjir, sirine peringatan dini, hingga penanda titik kumpul darurat.
Fahmi Yazid berharap, desain kawasan tangguh bencana ini nantinya dapat menjadi model replikasi nasional bagi desa-desa wisata lain di Indonesia.
“Kami meyakini, semangat Pancasila yang kami gelorakan hari ini, disertai sinergi kuat antara pemerintah, korporasi, akademisi, dan masyarakat, akan melahirkan kekuatan ekonomi baru. Kekuatan yang tangguh, mandiri, berkeadilan, dan tumbuh kokoh dari pinggiran Indonesia,” pungkas Fahmi Yazid.

*)Reporter LD : FY