“Jalan Pintas”: Abdul Aziz dan Kritik atas Kekuasaan Instan

Foto: Abdul Azis perupa asal Solo dengan maha karya berjudul ‘Jalan Pintas’

Lintasdesa.com, Surakarta – Dalam riuh pameran seni rupa alumni STSI/ISI Surakarta bertajuk “Local Wisdom dan Lahirnya Kearifan Baru” yang digelar di Wisma Seni Rupa, Taman Budaya Jawa Tengah, 8–14 September 2025, sebuah karya berjudul “Jalan Pintas” menarik perhatian banyak pengunjung. Lukisan karya Abdul Aziz, perupa asal Solo, menghadirkan panorama visual yang panas, gaduh, sekaligus penuh peringatan.

Dominasi warna merah, oranye, dan kuning menjadi latar utama, menghadirkan kesan situasi sosial yang bergolak. Di balik komposisi itu, Aziz menyelipkan tangga sebagai simbol tajam: bukan sekadar sarana naik yang terhormat, melainkan jalan curang menuju puncak kekuasaan.

“Saya ingin menggambarkan bagaimana kekuasaan yang diraih tanpa proses, tanpa legitimasi, dan tanpa pertanggungjawaban pada akhirnya hanya melahirkan kehancuran. Tangga menuju puncak itu memang ada, tapi nilainya hanya sah jika ditempuh dengan kesabaran dan keadilan,” ujarnya.

Bentuk-bentuk geometris yang acak dan saling bertubrukan menegaskan keteraturan semu yang dipaksakan—sebuah peringatan bahwa harmoni yang dipelintir justru memicu konflik. Fragmen warna hijau dan biru yang terjepit di antara dominasi merah-oranye melambangkan rakyat kecil dan ruang hidup yang kian tersisihkan oleh ambisi para penguasa.

Baca Juga :  Program Ketahanan Pangan Polda Banten, 50 Hektar Tanaman Jagung di Tanggerang Terbengkalai

Bagi Abdul Aziz, seni rupa bukan sekadar estetika, tetapi juga etika. Ia meyakini karya seni dapat menjadi bahasa lain untuk menyuarakan kritik sosial. “Saya percaya seni bisa menjadi cermin bagi masyarakat melihat apa yang sedang terjadi di sekelilingnya,” tuturnya.

Hadirnya “Jalan Pintas” sekaligus merefleksikan tema besar pameran: kearifan lokal sebagai sumber inspirasi dan pengingat. Jika masyarakat Jawa mengenal pepatah alon-alon waton kelakon—bahwa setiap tujuan mulia memerlukan kesabaran dan ketekunan—maka karya ini seakan menegaskan kembali pesan itu di tengah praktik politik modern yang sering memilih cara-cara instan.

Melalui “Jalan Pintas”, Abdul Aziz tidak hanya menyodorkan kritik terhadap praktik politik yang merusak legitimasi, tetapi juga mengajak publik merenungkan ulang nilai dasar: kekuasaan sejati hanya lahir dari proses, legitimasi rakyat, dan keberanian memikul tanggung jawab. Tanpa itu semua, tangga menuju puncak hanyalah jalan singkat menuju kehancuran. (Yosh**)