Bawa Tiga Jurus Desa, Formades Jabar Uji Nyali di Musda Perdana Sumedang

SUMEDANG, LINTASDESA – Di sebuah video TikTok berdurasi 27 detik yang diunggah Sabtu (2/5/2026), seorang pria berjas dan kemeja putih berdiri di depan latar tembok polos. Tanpa musik, tanpa edit mencolok. Ia bicara pelan:
“Saya Junaidi Farhan, Ketum Formades, mengucapkan tetap semangat untuk melaksanakan Musda Pertama DPD Jawa Barat di Sumedang, 15–16 Mei 2026. Semoga dapat terlaksana dengan baik dan sukses.”
Video sederhana itu jadi penanda penting. Pada 15–16 Mei 2026, Forum Membangun Desa (Formades) Jawa Barat akan menggelar Musyawarah Daerah pertamanya di Sumedang. Bagi organisasi yang baru lahir dan digerakkan dari bawah, Musda bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah ujian konsolidasi sekaligus pembuktian program.
Lahir dari “Pas-pasan”, Bicara Program
Formades tidak punya donatur besar. Tidak ada baliho raksasa di jalan protokol. Sekretariat Umumnya di Bandung Barat pun jauh dari kesan megah. Tapi di sanalah Sekretaris Jenderal Formades, Agus Dadang Hermawan, bicara tentang gerakan yang ia sebut “murni perjuangan orang desa”.
“Formades ini lahir dari masyarakat bawah. Kemampuan SDM dan materi kami terbatas, bahkan sangat pas-pasan,” kata Kang Harry, sapaan akrabnya, saat dihubungi via WhatsApp. “Tapi kami tidak mau Musda ini cuma seremonial. Ada tiga program yang kami bawa untuk diuji dan dijalankan 27 DPC se-Jabar.”

Tiga Program Unggulan yang Dibawa ke Sumedang
Kang Harry merinci, tiga program ini akan dimatangkan sebagai rekomendasi Musda:
1. Sekolah Desa
Program ini menyasar peningkatan kapasitas seluruh lapisan warga desa: anak, remaja, pemuda, perempuan, hingga laki-laki. Tujuannya empat: meningkatkan kapasitas warga, menghidupkan kembali pengetahuan dan praktik lokal ekonomi serta ketahanan pangan, menumbuhkan kesadaran lingkungan dan keberlanjutan, dan memperkuat partisipasi warga dalam pengambilan keputusan desa.
Bentuknya dibuat membumi: Sekolah Kampung, Kelas Tematik, Lokakarya dan Praktik Lapangan, Diskusi Warga, hingga Magang Komunitas. “Desa tidak boleh cuma jadi objek. Lewat Sekolah Desa, warga yang menentukan arahnya sendiri,” ujar Kang Harry.
2. Ketahanan Pangan
Formades Jabar menargetkan lima capaian di sektor ini. Pertama, terbentuknya Lumbung Pangan Desa di setiap desa dampingan Formades. Kedua, tumbuhnya usaha pangan atau unit usaha pangan komunitas. Ketiga, terbitnya Peraturan Desa tentang Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan. Keempat, meningkatnya ketersediaan dan konsumsi pangan lokal. Kelima, terbangunnya jejaring antar-desa pangan mandiri.
“Kalau dapur desa aman, desa punya posisi tawar. Itu fondasi kesejahteraan,” tegas Kang Harry.
3. Posbakum Formades
Program ini menjawab minimnya akses keadilan di desa. Posbakum Formades akan menyediakan layanan bantuan hukum bagi masyarakat desa, mengaktifkan literasi dan kesadaran hukum warga, serta melatih dan membina Kader Hukum Desa di setiap desa.
Tak berhenti di pendampingan kasus, Posbakum juga mengorganisir dan mendokumentasikan persoalan hukum struktural desa, sekaligus mendorong advokasi kebijakan desa dan kecamatan yang berpihak pada kepentingan rakyat. “Banyak warga dirugikan bukan karena salah, tapi karena tidak paham hukum,” kata Kang Harry.
Murni Gerakan Desa
Visi Formades tetap sama: “Membangun Masyarakat Desa untuk Mencapai Kesejahteraan Bersama” dengan napas gotong royong, sinergi, dan transparan.
Meski tergolong muda, jaringan pelopor Formades kini sudah menyebar di 30 provinsi. Konsolidasi ke tingkat kabupaten/kota terus berjalan. Musda Jabar jadi batu uji. Jika Sumedang sukses merapikan struktur dan mengikat komitmen pada tiga program itu, ia bisa jadi blueprint untuk daerah lain.
Kang Harry menepis anggapan Formades sebagai kendaraan politik. “Formades dibangun bukan untuk kepentingan golongan tertentu. Ini murni perjuangan masyarakat desa dan Indonesia secara umum,” tegasnya.
Ia menutup: “Perjuangan Formades bukan hanya narasi, tetapi aksi nyata bersama masyarakat.” Sesuai tagline mereka: Dari Desa untuk Indonesia.
Taruhan di Sumedang
Bagi Junaidi Farhan, Musda 15–16 Mei nanti adalah momentum untuk memastikan napas Formades tetap kolektif, bukan instruktif.
Tantangannya jelas: tanpa logistik kuat, bagaimana memastikan Sekolah Desa, Lumbung Pangan, dan Posbakum tidak berhenti jadi rekomendasi di atas kertas?
Jawaban Formades: kembali ke semangat awal. Jika organisasi ini lahir dari “pas-pasan”, maka ukurannya bukan megah tidaknya Musda, tapi seberapa hidup tiga program itu di desa-desa Jabar pasca Sumedang.
