Praktik Hukum Rimba Adalah Simbol Kekuasaan dan Pengkhianatan

Oleh: Junaidi Farhan (Ketua Umum Forum Membangun Desa)
LINTASDESA.COM – Praktik hukum rimba bukan sekadar metafora; ia benar-benar hadir dan bekerja dalam dinamika kekuasaan. Thomas Hobbes, dalam Leviathan, menggambarkan kondisi semacam ini sebagai state of nature: keadaan ketika manusia hidup dalam “perang semua melawan semua”, di mana yang kuat menguasai yang lemah. Dalam kondisi seperti itu, keadilan menjadi mewah dan nyaris mustahil ditemukan.
Pengkhianatan adalah bentuk paling menyakitkan dari hukum rimba. Banyak pemimpin menggunakan kekuasaan untuk menghancurkan lawan, bahkan kawan sendiri yang tak lagi sejalan. Niccolò Machiavelli dalam Il Principe menegaskan bahwa kekuasaan kerap dipertahankan bukan dengan moralitas, tetapi dengan kecakapan menggunakan ketakutan, manipulasi, dan—bila perlu—pengkhianatan. Kekuasaan seperti ini sangat berbahaya ketika tidak diimbangi etika.
Karena itu, perjuangan menuntut keadilan dan akuntabilitas harus dilakukan terus-menerus. Dalam logika hukum rimba, keadilan hanyalah jarum di tumpukan jerami. Namun ironi terbesar adalah, bahkan dalam negara hukum modern sekalipun, implementasi keadilan masih jauh dari sempurna. Mereka yang kuat bisa melanggar hukum dengan impunitas, sementara yang lemah harus menanggung konsekuensi. Inilah wajah lain dari hukum rimba yang bersembunyi di balik kemasan hukum modern.
Untuk itulah rakyat harus terus memperjuangkan kesadaran hukum dan hak-hak mereka. Ini bahkan lebih penting daripada kebutuhan perut. Sebab saat pemerintah korup dan penegak hukum tak independen, sistem menjadi hampa. Bukti bisa jelas, petunjuk bisa terang, tetapi karena kepentingan politik atau ekonomi, kebenaran tetap dipelintir.
Langkah yang dapat dilakukan meliputi memperkuat gerakan masyarakat, mendukung lembaga antikorupsi, hingga protes damai. Namun jalan ini tidak pernah mudah. Beban bertambah ketika aktivis LSM atau jurnalis—yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran—malah menjadi bagian dari permainan kekuasaan karena imbalan. Itu adalah pengkhianatan yang tidak hanya merusak integritas pribadi, tetapi juga harapan publik.
Di sinilah ujian paling berat muncul: menghadapi kawan sendiri yang berubah arah. Melawan musuh itu mudah; melawan sahabat jauh lebih perih karena ada jejak kepercayaan. Tetapi kesetiaan pada kawan tidak boleh melampaui kesetiaan pada kebenaran. Machiavelli bahkan mengingatkan bahwa seorang pemimpin yang tak mampu mengambil keputusan keras demi kebenaran akan terseret oleh ketidakpastian dan manipulasi.
Pengkhianatan seorang kawan memang menyakitkan, tetapi itu tidak boleh menghalangi langkah memperjuangkan keadilan. Ada saat di mana keberanian untuk menghentikan perilaku salah menjadi satu-satunya pilihan. Pada akhirnya, bahkan dalam hukum rimba sekalipun, ada batasnya: ketika keserakahan sudah kenyang, kekuasaan itu akan menghantam dirinya sendiri.
