Membaca Arah Sekolah Desa FORMADES: Menghidupkan Ruang Belajar dan Kedaulatan Desa

Yoseph Heriyanto, inisiator sekolah desa Formades/ Ketua Bidang Litbang dan Inovasi DPP Formades

LINTASDESA.COM – Desa tidak kekurangan pengetahuan. Yang sering absen adalah ruang untuk menata pengetahuan itu menjadi kesadaran kolektif. Pengetahuan tentang musim, tata air, produksi pangan, relasi sosial, hingga cara bertahan di tengah tekanan ekonomi—semuanya ada dan hidup.

Namun tanpa ruang untuk mempertemukan pengalaman-pengalaman itu, desa berjalan sendiri-sendiri, tercerai dalam urusan administratif dan proyek.
Di titik inilah Sekolah Desa yang digagas Forum Membangun Desa (FORMADES) menemukan relevansinya.

Sekolah Desa bukan sekadar program pelatihan. Ia adalah ikhtiar membangun kesadaran. Bukan ruang transfer materi, melainkan ruang membaca realitas. FORMADES tidak sedang membangun “kelas” dalam pengertian formal, tetapi membangun proses: proses warga memahami arah kebijakan, memetakan persoalan, dan menyusun posisi desa secara lebih bermartabat.

Kondisi desa hari ini menunjukkan betapa ruang belajar kolektif memang mendesak untuk dihidupkan kembali. Banyak desa mengalami ketergantungan tinggi pada pihak luar—baik dalam hal data, perencanaan, hingga arah pembangunan.

Program datang silih berganti, tetapi tidak selalu lahir dari pembacaan mendalam warga sendiri. Musyawarah sering kali menjadi formalitas administratif, bukan forum dialektika gagasan. Akibatnya, desa kerap menjadi objek keputusan, bukan subjek penentu arah.

Yang sesungguhnya sedang mengalami krisis bukan semata anggaran atau infrastruktur, melainkan daya refleksi dan daya tawar desa itu sendiri. Ketika desa kehilangan ruang untuk berpikir bersama, ia kehilangan kemampuan membaca kepentingannya sendiri.

Ketergantungan pada program eksternal bukan hanya soal bantuan, tetapi soal melemahnya imajinasi kolektif tentang masa depan. Desa berjalan, tetapi tanpa kesadaran penuh ke mana ia hendak diarahkan.

Baca Juga :  FORMADES Desak Pemkab Bandung Barat Lebih Transparan, Bupati Jeje Tegaskan “Tak Ada Toleransi” untuk ASN Korup

Jika dicermati, arah Sekolah Desa FORMADES setidaknya bergerak pada tiga lapis kesadaran.

Pertama, kesadaran kebijakan. Desa hari ini tidak bisa dilepaskan dari regulasi: dana desa, tata ruang, pertanian, lingkungan, hingga tata kelola pemerintahan.

Tanpa kemampuan membaca kebijakan, desa mudah terseret dalam arus keputusan dari atas. Sekolah Desa hadir sebagai ruang literasi kebijakan—agar warga tidak hanya menerima, tetapi memahami, menguji, dan bila perlu mengkritisi arah kebijakan tersebut.

Kedua, kesadaran sosial-ekonomi. Mengapa biaya produksi petani semakin tinggi? Mengapa sawah tergerus? Mengapa anak muda menjauh dari sektor pertanian? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak cukup dijawab secara individual. Ia membutuhkan pembacaan bersama.

Sekolah Desa menjadi ruang untuk mengurai persoalan struktural—rantai distribusi, akses permodalan, pasar, hingga perubahan orientasi pembangunan—bukan sekadar keluhan personal yang berhenti pada obrolan warung.

Ketiga, kesadaran kolektif. Desa kuat bukan karena proyeknya banyak, tetapi karena warganya terhubung satu sama lain dalam gagasan dan tindakan. FORMADES tampaknya ingin menghidupkan kembali tradisi musyawarah sebagai ruang belajar, bukan hanya ruang formalitas. Musyawarah bukan sekadar menyepakati anggaran, tetapi merumuskan visi dan arah bersama.

Dalam konteks ini, Webinar Sekolah Desa bukan sekadar acara daring. Ia adalah pintu masuk untuk membangun ekosistem belajar di desa. Percakapan tentang pendidikan desa menjadi penting karena pendidikan bukan hanya urusan sekolah formal, melainkan proses membangun subjek yang sadar dan mampu menentukan masa depannya sendiri.

Baca Juga :  FORMADES: Sangat Senang Dirut Inhutani V Kena OTT KPK

Namun gagasan besar akan kehilangan maknanya jika berhenti pada diskusi. Karena itu, Sekolah Desa perlu diturunkan menjadi langkah-langkah nyata.

Pasca-webinar, perlu dibentuk komunitas belajar desa yang rutin berdiskusi dan membedah isu konkret di wilayahnya. Perlu disusun modul kontekstual yang sederhana namun aplikatif—tentang membaca APBDes, memahami kebijakan agraria, hingga memetakan potensi ekonomi lokal.

Setiap proses belajar semestinya disertai praktik kecil yang terukur, agar diskusi tidak menguap menjadi wacana. Kaderisasi fasilitator lokal juga menjadi kunci agar Sekolah Desa tidak bergantung pada segelintir orang, melainkan tumbuh sebagai gerakan yang mandiri dan berkelanjutan.

Hasil pembacaan warga pun perlu dihubungkan dengan ruang advokasi yang lebih luas, sehingga suara desa tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi menemukan jalannya dalam kebijakan publik.

Membaca arah Sekolah Desa FORMADES berarti membaca upaya mengembalikan desa sebagai pusat pengetahuan. Desa bukan objek pembangunan, tetapi produsen gagasan. Bukan penerima program, tetapi perumus masa depan.

Sekolah Desa, pada akhirnya, adalah tentang keberanian membaca realitas sendiri—dan keberanian untuk menyusunnya menjadi gerakan bersama.

Tanpa ruang belajar kolektif, desa hanya akan menjadi pelaksana kebijakan; dengan Sekolah Desa, ia berpeluang menjadi penentu arah.

Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Lintasdesa.com